Yuma Soerianto, Developer Aplikasi Termuda
Yuma Soerianto, Developer Aplikasi Termuda

Bocah yang mendapatkan pujian dari bos APPLE
Yuma Soerianto, bocah 10 tahun melakukan perjalanan dari Melbourne, Australia menuju ke Amerika Serikat (AS) dengan memboyong aplikasi buatannya sendiri ke hadapan Tim Cook, CEO Apple.
Rupanya, Cook terkagum karena siswa kelas 5 SD di Middle Park Primary School di Melbourne, Australia itu berhasil membuat aplikasi yang dipublikasikan di App Store.
Di ajang WWDC (Worldwide Developers Conference), siswa yang duduk di bangku sekolah Middle Park Primary School, yang terletak di Melbourne, Australia ini pun didapuk menjadi developer aplikasi termuda.
Selasa (6/6/2017), keberhasilan Yuma itu membuatnya menjadi pengembang aplikasi termuda yang diundang ke Worldwide Developer Converence (WWDC) di San Jose, Amerika Serikat. Dalam sebuah kesempatan, Yuma pun bertemu dengan Cook untuk menyampaikan gagasannya.
Yuma sendiri belajar coding sejak umur 6 tahun. Waktu itu ia berpikir kalau pelajaran di sekolah kurang menantang. Yuma pun berhasil membuat aplikasi pertamanya tahun lalu. Kini, lima aplikasi sudah ada dan bisa diunduh di App Store.
Salah satu aplikasi yang dibuat oleh Yuma bernama Hunger Button. Ia membuat aplikasi tersebut untuk membantu orang menemukan restoran terdekat untuk makan malam. Selain itu, aplikasi lain yang dibesut Yuma adalah Let's Stack, sebuah gim yang melibatkan kotak susun.
Namun, bukan kedua aplikasi di atas yang bikin Cook kagum. Justru Cook terkesan dengan aplikasi kalkulator yang dibuat Yuma saat berada di pesawat. Aplikasi itu rupanya bisa membantu orangtua Yuma menghitung harga barang dengan menambahkan pajak penjualan lokal. Tak hanya itu, aplikasi tersebut juga bisa mengkonversi mata uang saat penggunanya berbelanja souvernir di perjalanan.
Tentu saja ia sangat gembira bertemu dengan CEO Apple. Secara langsung Yuma pun mengemukakan ide-idenya kepada petinggi Apple tersebut. Dan ada satu yang paling mengesankan bagi Tim Cook dari sejumlah aplikasi yang dibuatnya.
Dalam penerbangan dari Australia menuju AS, aplikasi tersebut dibuat Yuma di pesawat seperti dilansir dari harian Sydney Morning Herald, edisi Senin, 5 Juni 2017.
Yuma membuat aplikasi ini guna membantu orangtuanya dalam menentukan harga dari sebuah barang. Harga ini juga sudah tersaji dalam bentuk konversi mata uang yang akan digunakan dan sudah termasuk pajak dan sesuai dengan harga penjual lokal.
Menurutnya aplikasi ini akan sangat berguna ketika mereka berpergian dan akan berbelanja souvenir untuk oleh-oleh.

“Hebat, keren sekali,” Cook berkomentar kagum usai melihat Yuma mendemokan aplikasi buatannya tersebut.
"Sangat keren. Kamu benar-benar membuatnya saat berada di dalam pesawat dari Australia menuju Amerika Serikat? Wow. Kamu berhasil membuat aplikasi hanya dalam waktu satu jam," kata Tim Cook setelah melihat Yuma mendemonstrasikan aplikasi tersebut.
Cook mengatakan, dirinya terkesan dengan kemampuan Yuma. "Saya tak sabar menunggu untuk karyamu selanjutnya," tutur Cook pada Yuma.
Siapa Saja Bisa Coding
Yuma mengaku, dirinya mempelajari KODE PEMROgramAN Swift yang biasa dipakainya untuk membuat aplikasi dari kursus online yang disediakan Stanford University.
Tak hanya jago coding, ia juga memiliki sebuah saluran YouTube bernama Anyone Can Code. Lewat saluran ini, Yuma sangat senang membantu anak-anak dan orang dewasa belajar coding.
Meski baru 10 tahun, Yuma termasuk anak-anak yang punya semangat dan ambisi besar.
check video ini:
"Saya ingin jadi Batman," ujarnya saat ditanya cita-citanya.
"Saya bercanda. "Aku ingin membuat aplikasi-aplikasi yang bisa mengubah dunia. Aku juga ingin mengajarkan coding dan membuat orang bisa coding," tutur Yuma panjang lebar.
Menurutnya, coding adalah hal yang bisa dipelajari semua orang. "Kamu bisa coding kalau kamu sabar, terus belajar dan ingin melakukannya," kata dia.
Tak sembarang coding, ia juga mengatakan bahwa sebuah aplikasi yang baik memerlukan desain dan user experience yang baik untuk pengguna. Disebutkan Yuma, pada beberapa bagian proses membuat aplikasi, dia dibantu oleh kedua orangtuanya, terutama sang ayah.
"Saya melakukan semua proses coding, namun saya tahu bahwa aplikasi yang bagus juga memerlukan desain dan pengalaman yang bagus untuk pengguna," ujarnya.
Maka dia pun menyerahkan bagian itu pada ayahnya, Hendri, yang merupakan desainer interaktif. Tantangan lain yang dihadapinya saat membuat aplikasi adalah sejumlah isu dalam memahami logika di balik proses pengembangan aplikasi.
Hal yang menjadi tantangan baginya dalam membuat aplikasi adalah di balik proses pengembangan aplikasi akan ditemukan sejumlah isu dalam memahami logika.
"Saya senang bermain logika, jadi saya berusaha melompati rintangan," ujarnya.
check video ini :
Lima aplikasi buatan Yuma yang ada di App Store saat ini adalah Let's Stack, Hunger Button, Kid Calculator, Weather Duck dan Pocket Poke. Semua aplikasi ini gratis, namun Yuma mendapatkan keuntungan dari iklan di aplikasi tersebut.
Yuma bercerita bahwa dirinya mendapatkan ide dari mana saja, dan sering terinspirasi dari masalah yang ingin dia selesaikan. Salah satu contohnya adalah aplikasi Hunger Button.
"Untuk aplikasi Hunger Button, ketika aku pergi makan malam dengan orangtuaku, kami bingung mau pergi makan kemana," kata Yuma.
Aplikasi tersebut memanfaatkan data lokasi pengguna untuk merekomendasikan restoran terdekat secara random, disertai dengan informasi rating restoran dan panduan arah untuk mencapai ke lokasinya.



Komentar
Posting Komentar